STIMART "AMNI" make you professional, qualified, competent and internationally competitive

This slideshow requires JavaScript.

KRI Dewa Ruci Diganti Tahun Ini

SURABAYA, KOMPAS.com – Kapal perang RI yang selama ini digunakan sebagai kapal layar latih – KRI Dewa Ruci – akhirnya memasuki pensiun. Pengadaan kapal layar latih baru dilakukan 2011 ini.

Hal ini disampaikan Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono seusai menjadi inspektur upacara dalam serah terima jabatan (sertijab) Komandan Jenderal Akademi TNI di Akademi Angkatan Laut, Surabaya, Jumat (28/1/2011).

Letnan Jenderal TNI (Mar) Nono Sampono menyerahkan jabatan Danjen Akademi TNI kepada Marsekal Muda TNI Sru Astjarjo Andreas. Nono kini menjabat Kepala Badan SAR Nasional, sedangkan Astjarjo sebelum ini adalah Gubernur Akademi Angkatan Udara.

Menurut Agus, pengadaan kapal layar latih pengganti KRI Dewa Ruci diproses tahun 2011 ini. Soal dari mana kapal layar dibeli, belum diketahui sebab tergantung proses tender.

“Yang jelas, kapal layar itu harus lebih besar, bisa menampung 150 kadet, 150 awak, dan bisa berkeliling dunia dengan baik,” tutur Agus.

KRI Dewa Ruci dibangun HC Stulchen and Sohn Hamburg, Jerman pada 1952-1953. Kapal ini berbobot 847 ton, panjang 58,5 meter dan lebar 9,5 meter.

Dewa Ruci, Kebesaran Maritim Indonesia

JAKARTA, KOMPAS.com — Buku mengenai KRI Dewa Ruci berjudul Sebuah Kisah Nyata Dewa Ruci, Pelayaran Pertama Menaklukkan Tujuh Samudradiluncurkan pada Jumat (19/11/2010) di Toko Buku Gramedia Matraman, Jakarta Timur. Buku ini berisi mengenai perjalanan pertama KRI Dewa Ruci pada tahun 1964.

Dalam buku setebal 472 halaman ini, Cornelis Kowaas menuliskan pengalamannya berlayar bersama KRI Dewa Ruci. Pengalaman manis dan pahit dia tulis dengan bahasa yang sederhana sehingga mudah dimengerti oleh berbagai kalangan.

Menurut Eddy Prastyono PhD, Wakil Dekan FISIP Universitas Indonesia, setidaknya ada tiga kekuatan yang dimiliki buku ini. Kekuatan pertama adalah teknik penulisan dan alur cerita yang sangat baik.

“Bagaimana Pak Kowaas menceritakan pengalaman unik secara sangat baik, misalnya saat salah satu kru kapal mendekati seorang wanita Mediterania. Kru ini minta berkunjung ke rumah si wanita, padahal di sana kalau pacaran di rumah itu artinya melamar,” kata Eddy.

Kekuatan kedua buku ini adalah mengenai substansinya. Eddy menjelaskan bahwa ternyata kapal Dewa Ruci selalu mendapat sambutan yang luar biasa saat melakukan kunjungan ke negara lain. “Jadi, kunjungan kapal ke mana-mana itu merupakan diplomasi juga yang tidak kalah efektifnya dengan diplomasi resmi,” ujarnya.

Adapun kekuatan ketiga dari buku ini, lanjut Eddy, adalah bagaimana Kowaas menunjukkan bahwa dengan pelayaran ke luar negeri, Indonesia menunjukkan eksistensi dan kebesaran negara.

“Saat ketemu kapal-kapal lain, ternyata berlayarnya suatu kapal itu merupakan simbol eksistensi bangsa. Kita menunjukkan bahwa kita bangsa yang besar,” ujarnya.

Kowaas sendiri berharap, buku ini dapat mengingatkan masyarakat, terutama kaum muda, terhadap kebesaran Indonesia di bidang kelautan. “Dengan buku ini, saya berharap kita ingat bahwa kita itu bangsa maritim. Kebanggaan kita jangan pernah pudar akan hal itu,” katanya.

LEMUSTAR47-NEWS/2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

%d bloggers like this: